Karya : Susi
Susilawati
Saat
tubuhku melemah. Badanku
panas bercampur dengan
batuk,
sampai mengganggu tenggorokanku. Aku melewatinya sendirian seperti malam-malam sebelumnya.
Tak ada yang tahu dari rasa sakit ini. Aku merahasiakannya. Termasuk kepada
ibuku.
Mungkin ini yang ke sekian kalinya. Aku harus melewati
hari-hari sendirian melawan rasa sakit ini. Ah,, aku tak ingin mengeluh. Dalam
prinsipku, aku harus tetap tegar di hadapan siapapun, termasuk teman-temanku.
Jangan pernah menunjukan kondisi terpuruk.
Malam ini aku berteman dengan sunyi diantara selimut dan bantal yang ku genggam. Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul di
hadapanku. Ia tersenyum memandangku dengan harapan. Aku
rindu dia, rindu kasih sayangnya,
rindu semuanya tentang dia tapi sayang kita terpisah jarak dan waktu.
Malam
sudah kulewati. Kini mentari
telah menampakan diri di hadapanku. Pagi
mulai menyapaku dengan tersenyum, mengajaku untuk segera beranjak
melakukan aktivitas. Namun kali ini suasananya sangat berbeda, tak seperti
hari-hari sebelumnya. Panas di badanku belum juga turun. Meskipun begitu aku
memaksakan diri untuk tetap pergi ke sekolah karena hari ini sedang
dilaksanakan ujian. Walaupun
sebenarnya aku tidak kuat tapi,
Aku
yakin pasti bisa melewati semunya.
Jarum jam sudah menunjukan tepat pukul
07:00. Sudah waktunya berangkat
sekolah. Tanpa menunggu lama lagi aku segera melangkahkan kaki menuju sekolah. Di sanalah aku belajar
banyak hal. Tempat yang ku pilih untuk menuntut
ilmu demi masa depanku. Dengan memakai seragam putih abu, sepatu hitam yang kupakai, serta tas ransel yang ku bawa di punggungku.
Aku berjalan menuju sekolah sendirian. Sesampainya
di sekolah, tiba-tiba temanku menyapa
dan bertanya;
“kenapa wajahmu pucat?” “Kamu lagi sakit?” Ya, aku memang lagi kurang sehat jawabku." Belum sempat ngobrol panjang lebar. Kemudian bel sekolah berbunyi, aku pun bergegas masuk kelas. Sekitar 10 menit
berlalu seorang guru datang dan menyuruh kami
mengumpulkan tas di depan kelas satu
persatu.
Kami
di beri soal untuk diisi,
tanpa menghiraukan rasa sakit,
aku mengisi soal
satu-persatu dengan teliti. Alhamdulillah semua soal dapat terjawab,
mudah-mudahan hasilnya sesuai harapan.
Sampai bel sekolah pun sudah berbunyi, tanda waktu mengerjakan soal sudah selesai. Maka kami
keluar kelas untuk segera pulang. Tanpa basa-basi, Aku pun langsung pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, pandanganku langsung
tertuju ke ruangan kecil tempat untuk beristirahat. Lalu aku minum obat.
Setelah
itu aku ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, dan melaksanakan
sholat
dzuhur. Sepanjang sholat, tiba-tiba air mataku
menetes,
mengalir membasahi wajahku. Teringat sosok yang biasanya menyapa setiap aku
pulang sekolah, perhatian, dan selalu membimbingku sampai saat ini. Dialah ibuku.
Aku sangat merindukanmu ibu. Aku
hanya bisa mendokanmu
ibu dengan menengadahkan
kedua tanganku ke langit tingg. Ya Robbi sayangilah dia seperti dia menyayangiku di
waktu kecil, berikanlah kesehatan padanya
lindungilah dimana pun dia berada.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar