Karya: Anisa
Dewi Safitri
Perkenalkan namaku Wahida Anisa Diniah. Aku sering disebut Anisa. Ya, kalian boleh memanggilku Anisa, Nisa, atau Nis ya... Terserah kalian mau memanggil aku apa, yang jelas kalian harus mulai mengenalku sekarang.
Pagi ini aku berjalan menuju tempat sekolahku. Memang tidak terlalu terkenal, karena lokasinya sangat dekat dengan perkampungan dan agak jauh dari jalan raya. Udaranya lumayan sejuk, karena daerah ini termasuk dataran tinggi. Cukup mendukunglah buat kamu yang ingin jalan-jalan di sini atau hanya refresing menenangkan pikiran dari aktivitas harian yang rumit.
Sebagian besar aktivitas masyarakat di sini berprofesi sebagai buruh tani. Setiap pagi pandanganku tak terlepas dari pesawahan dan perkebunan. Saat menuju ke sekolah, aku sering melihat para petani sedang bekerja menanam biji-bijian, sayur-sayuran, dan palawija. Jika sudah musim panen tiba, hasilnya bisa dijual ke pasar.
Seperti hari-hari sebelumnya. Aku berjalan sendirian. Bukan karena semua teman-temanku memusuhiku. Tapi memang jarak sekolahku lumayan jauh dan membutuhkan waktu sekitar ½ jam. Ada juga yang jaraknya sekitar 1 jam bahkan lebih. Rumahku dan teman-temanku yang lain sangat jauh dan beda arah. Jadi tidak heran kalau aku berangkat ke sekolah selalu sendirian.
Sebagian temanku ada yang memakai kendaraan roda dua, tapi kebanyakan berjalan kaki. Selain karena menyehatkan, rata-rata dari mereka tidak meiliki kendaraan bahkan sebagiannya lagi tidak punya ongkos untuk naik kendaraan. Makannya, aku selalu jalan kaki, bukan tidak punya ongkos, tapi memang uang sakuku yang tidak memadai.
Semangat merekalah yang membuat Aku sadar, bahwa hidup bukan hanya soal siapa yang kaya dan siapa yang miskin, tetapi siapa yang ingin berusaha agar hidupnya bahagia. Siapa yang hanya berdiam diri dan berharap tanpa berusaha? Haii kawan! kita barada di dunia nyata bukan dunia hayalan! Jadi jangan hanya berdo'a tanpa disertai dengan tindakan karena hasilnya akan mengecewakan.
Oh iya aku ingin bercerita. Akhir-akhir ini semua bukuku tercap TUGAS!!!! ya.... Memang sudah menjadi tradisi, bahwa di setiap sekolah kamu pasti tahu kan? Kamu tidak akan lepas dari yang namanya Pekerjaan Rumah (PR), Ulangan Harian (UH), dan Tugas Kelompok (TK). Terkadang semua itu bersifat mendadak. Kalian pasti tahu bagaimana rasanya mengerjakan hal-hal yang sifatnya mendadak? Etttt bukan tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan. hehe Kalau itu sudah jelas enak tapi klo tugas dadakan itu gak enak! Kalau tidak percaya coba saja dimakan pasti tidak enak. hehe
Setiap hari Aku memperhatikan teman-temanku. Mereka berangkat ke sekolah belum tentu juga satu tujuan dengan kita... Maksudku begini, ada yang ke sekolah buat belajar dengan sungguh-sungguh, ada yang ngerumpi sama temen-temennya, ada yang cuma mau ketemu sama si dia. ehhh siapa sih si dia itu? Ya pokoknya dia aja, ada juga yang kesekolah buat lihat Bapak/Ibu yang Ganteng/Cantik. Hehe. Ada juga yang cuma setor muka dan ketika di kelas mereka hanya mengganggu teman-teman yang lain.
Kalau kalian sudah berada di masa SMA/SMK, kalian pasti merasakan bagaimana ada sosok penyemangat? Memang banyak sih, yang menjadi sosok penyemangat. Dari sosok orangtua yang memberikan semangat kepada anaknya untuk sekolah. Adanya sahabat yang selalu memberikan dukungan agar tetap sekolah. Ada juga sosok penyemangat dari sang pacar yang jarak kelasnya hanya lima langkah, ehhh kok kaya judul lagu ya? Ada satu sosok penyemangat lagi nih, kalau yang ini aku bangett...hehe mau tahu siapa ayo? Sosok penyemangatku Yaituuuuuuu jeng jeng jeng bisa melihat guru favoritku hadir di hadapanku. hehehe
Boleh aku bercerita sedikit tentang guru favoritku ini. Dia itu tampan, baik, pinter, perhatian, selalu menolong, dan suka menabung, hehehe. Ya menurutku dia termasuk kriteria cowo idaman buat aku, gak tau sih klo buat kamu. Pokoknya dia adalah sosok penyemangat bagiku. Meskipun dia tidak datang setiap hari. Tapi kamu tahu ngak bahwa aku selalu fokus ngeliat ke depan saat dia lagi nerangin pelajarannya. Bukan fokus dengan apa yang dia terangkan tapi fokus ngelihat ketampanan dari wajah pak guru itu. gkgkgk kata orang-orang sih alay. Tapi Aku merasa ketika dia mendekat "serasa dunia ini milik kita berdua... hahaha kurang lebih seperti itu!
Kalian sepertinya harus kenal deh sama guru yang satu ini karna bayangan kalian tidak sesuai dengan kenyataan. Kalau kalian melihat langsung kayanya kalian akan jatuh hati. Mau tahu kenapa? karena sejauh ini aku sudah bersaing dengan 6 kelas di sekolahku buat membeli risol di samping sekolah. Ehhh,, jangan kaget dulu guruku yang satu ini suka banget sama risol buatan mbak uni karena ada yang bilang rasanya enak! Gak tahu sih itu bener, apa nggaknya. Soalnya saya gak suka risol. Kamu pasti mikir kenapa aku beli risol? Padahal aku gak suka? Ya... Kannnn? hayooo jangan bohong. Yang pasti risol itu buat sosok penyemangatku. Kalian pasti tahukan siapa orangnya? Iya bener buat bapak ganteng itu, BTW (ngomong-ngomong) kalian tahu gak sih risol itu apa? Risol itu makanan yang digulung dan di dalamnya ada kelapa dan gula merah, sekarang udah tahukan apa itu risol? Jadi aku bisa ngelanjutin ceritannya.
Huh, rasanya cape menunggu buat ngantri beli risol mana kantinya gak pake atap. Jadi hati panas tuh makin aja panas aja. Kalau bukan demi bapak ganteng, aku gak mau tuh menunggu lama-lama, apalagi makanan itu gak saya suka. "Demi bapak aku rela berkorban asal bapak suka" eh kok malah jadi alay sih yaudahlah intinya "saya cape menunggu risol matang".
Akhirnya tinggal saya yang dilayani "mbak masih ada risolnya?" "maaf Nis udah abis tadi udah di pesen sama bapak ganteng". rasanya sungguh sia-sia pengorbananku untuk bapak ganteng itu, karena nyatanya dia udah mesen duluan. "ohhh yaudahlah mbak gak papa" "yaudah besok mbak sisain ya buat Nisa". "makasih mbak tapi nisa gak suka risol", "lah terus dari tadi ngantri bukannya buat beli risol?" "iya mbak tapi bukan buat Nisa. Terus buat siapa?" Buat sosok penyemangatku mbak". "Alay nya kamu ini kaya anak jaman now aja!" mendengar perkataan itu aku langsung diem terus aku mikir emang aku lebay ngomong kaya gitu ya? hemm.
Singkat cerita, setelah bel pulang sekolah berbunyi aku langsung berpikir pulang Masih dengan kesendirian. Tiba-tiba di tengah perjalanan ada yang memanggilku "Anis..., Anisa!" rasanya aku sangat mengenal suara itu. Aku langsung membayangkan seseorang yang tadi memanggilku membawa bunga dan berlutut kepadaku sambil mengatakan, "will you marry me"? Huh rasanya itu jauh dengan kenyataannya, karena nyatanya itu hanya temanku yang sedang melambaikan tangan kepadaku ketika berpisah dari jalan menuju rumahku. Aku memang pulang berdua dengan teman lelaki sekelasku. Kalian jangan berfikir macam-macam ya, karena kami hanya sebatas teman. Jika kalian ingin tahu apa saja yang aku lakukan di jalan bersamanya. Dia berbicara panjang X lebar X tinggi X alas X silang X atas X samping. Hihihi. Tahu nggak? ngomong sepanjang itu hanya membahas tentang sekolah. Dia memang membosankan. Tapi aku hanya mendengarkan musik dari HPku yang disambung dengan hadsheet. Suaranya terdengar mengalun di telingaku sambil menghayalkan bapak ganteng yang tadi membahas tentang pernikahan. Memang tidak baik bersikap seperti itu tapi sejujurnya aku sangat malas mendengarkan apa yang diucapnya. Lebih baik kita abaikan dia dan melanjutkan ceritanya kembali.
Kalian jangan salah faham tentangku dengan guru favoritku itu. Aku hanya mengaguminya. Aku juga tahu diri, siapa dia dan siapa aku disini. Dia hanya sosok penyemangat untuk aku datang ke sekolah tidak lebih dari itu. Biar gak keliatan ngenes-ngenes banget dengan sebutan JOMBLO tanpa penyemangat, kalo ditulis pake berkelas kan lebih keliatan tinggi derajatnya. hihihi
BTW selama ini belum ada loh yang mengetahui bahwa aku mengagumi bapak ganteng itu. Sebenarnya aku takut mereka salah paham antara mengagumi dengan mencintai. Sekarang aku hanya berfikir untuk belajar terlebih dahulu dan belum memikirkan untuk menikah apalagi sama bapak ganteng itu. Hehe. Ingat y,a aku hanya mengagumi bukan untuk memiliki, dan bagiku dia hanyalah sosok penyemangat untuk aku semangat ke sekolah.
Akhirnya aku sudah sampai di tempat tidurku, meskipun hanya sebentar. Tapi itu bisa membuat tubuhku nyaman. Sekarang aku mau istirahat dulu, dan kalo bisa aku ingin waktu ini secepatnya pagi dan bertemu kembali dengan Bapak ganteng itu. Jadi dengan berat hati aku akan menutup cerita ini dulu. Jika kalian ingin mendengarkan kelanjutan ceritaku do'akan saja agar aku bisa menulis lagi. tapi aku mohon jangan ucapkan selamat tiggal, tapi ucapkan semogga bertemu kembali.